STEREOTIP, HIERARKI DAN PARADOKS DALAM CERPEN LELUCON PARA KORUPTOR KAYA AGUS NOOR DAN LIRIK LAGU ANDAI AKU JADI GAYUS TAMBUNAN KARYA BONA PAPUTUNGAN: KAJIAN KRITIK SASTRA

 

STEREOTIP, HIERARKI DAN PARADOKS DALAM CERPEN LELUCON PARA KORUPTOR KAYA AGUS NOOR DAN LIRIK LAGU ANDAI AKU JADI GAYUS TAMBUNAN KARYA BONA PAPUTUNGAN: KAJIAN KRITIK SASTRA

Oleh: Fiqih Nur Kalam (181010700309)

Link: https://fikihnk.blogspot.com

 

PENDAHULUAN

            Karya sastra adalah penuangan ide-ide yang di imajinasikan menjadi teks yang memiliki nilai-nilai etika juga estetika. Karya sastra juga harus melahirkan sesuatu kreasi yang indah. Dalam proses ikreatif ikarya isastra ibanyak iunsur iyang iterlibat idi idalamnya, iseperti iilmu pengetahuan, iwawasan, ipemikiran, ikeyakinan idan ipengalaman ifisik, iserta iunsur iimajinasi yang lahir padaipengarang.

            Karya isastra isangat ibermanfaat ibagi ikehidupan, ikarena ikarya isastra idapat imemberi ikesadaran ikepada ipembaca itentang ikebenaran-kebenaran ihidup, iwalau idilukiskan idalam ibentuk ifiksi. iSejalan idengan ipendapat iAminudin i(2002i:36), i“Bahkan ikarya isastra imerupakan ikebutuhan ibagi iseseorang, iapalagi iseseorang itersebut imampu imenggali iisi idan imakna iyang iterkandung idalam ikarya isastra, ibaik ikarya isastra ipuisi, iprosa, imaupun idalam ibentuk ikarya isastra idrama”.

               Salahisatu di iantaranya iadalah icerpen i“kumpulan icerpen Lelucon Para Koruptor ikarya iAgus iNoor dan lagu “Andai Aku Jadi Gayus Tambunan” karya Bona Paputungan yang imenggunakan ibahasa isebagai itanda iatau ilambang iuntuk imenuangkan iide-ide ipengarang idalam ikarya isastra itersebut. iCerpen dan lirik lagu imerupakan ihasil ikarya isastra iseni iyang isekaligus ibagian idari ikebudayaan isebagai isalah isatu iha-sil ikesenian iyang imemiliki imakna itertentu idi idalam ikehidupan iterlebih-lebih ikaitannya idengan ikebudayaan. iCerpen dan lagu imengandung iunsur ikeindahan iyang idapat imenimbulkan iperasaan isenang, inikmat, iterharu, imenarik iperhatian idan imenyegarkan ipenikmatnya.

Maka manfaat iinilah iyang iakan ikita iperoleh idari ikegiatan sastra sastra bandingan, isehingga ihal iini imenjadi ipengalaman idalam ikehidupan iyang akan menjadi referensi para pembaca.

PEMBAHASAN

            Sterotip, Hirearki dan Paradoks dalam Cerpen Lelucon Para Koruptor karya Agus Noor dan Lirik Lagu Andai Aku Jadi Gayus Tambunan karya Bona Paputungan.

           Stereotip ialah kesan yang terbentuk pada seseorang tetntu melalu proses sebab akibat dan mencapai kesepakatan pada suatu kelompot tertentu. Stereotip adalah penilaian yang tidak seimbang terhadap suatu kelompok masyarakat. Penilaian itu terjadi karena kecenderungan untuk menggeneralisasi tanpa diferensiasi. Menurut   Samovar   &   Porter (Mulyana, 2006), stereotip adalah   persepsi   atau kepercayaan  yang  dianut  mengenai  kelompok  atau individu berdasarkan pendapat dan sikap yang lebih dulu  terbentuk.

Sedangkan menurut  Matsumoto (Liliweri,  2005), stereotip adalah  generalisasi  kesan yang   kita   miliki   mengenai   seseorang terutama  karakter psikologis atau sifat kepribadian. Barker (2004:415) mendefiniskan stereotip sebagai representasi terang- terangan namun sederhana yang mereduksi orang menjadi serangkaian ciri karakter yang dibesar-besarkan, dan biasanya bersifat negatif. Hal tersebut tercermin pada cerpen Lelucon Para Koruptor ikarya iAgus iNoor dan lagu “Andai Aku Jadi Gayus Tambunan” karya Bona Paputungan sebagai berikut:

A.                       Stereotip yang terjadi dalam Cerpen Lelucon Para Koruptor karya Agus Noor

“Ia kini benar-benar percaya dengan semua yang dikatakan pengacaranya. Ia tak perlu pusing memikirkan kebutuhan hidup bulanan istrinya karena sudah ada yang menanggung, juga biaya sekolah anak-anaknya. Kawan-kawan dan atasan yang merasa diselamatkannya—karena ia tak menyebutkan nama mereka selama persidangan—telah diatur oleh Join Sembiling SH agar membantu semua kebutuhan rumah tangganya sebagai “ucapan terima kasih” (Lelucon Para Koruptor 2017:1).

Pada kutipan di atas menujukan bahwa stereotip yang tumbuh di masyarakat bahwa koruptor bisa hidup dengan layak di dalam tahan tanpa harus mengkhawatirkan keluarganya karena segala halnya sudah diurus oleh oknum sebagai tanda terimaksihnya.

B.      Stereotip yang terjadi dalam Lirik Lagu Andai Aku Jadi Gayus Tambunan karya Bona Paputungan

 

“Kita orang yang lemah

Tak punya daya apa-apa

Tak bisa berbuat banyak

Seperti para koruptor”

 (Andai Aku Jadi Gayus Tambunan. 2011).

 

Pada kutipan di atas menujukan bahwa stereotip orang yang tidak memiliki hak istimewah (seperti para koruptor) dan tidak bisa berbuat banyak saat menjalani masa sulitnya di dalam tahanan.

 

           Hierarki merupakan teori yang mengenai sistem hukum yang diperkenalkan oleh Hans Kelsen yang menyatakan bahwa sistem hukum merupakan sistem anak tangga dengan kaidah berjenjang. Hubungan antara norma yang mengatur perbuatan norma lain dan norma lain tersebut dapat disebut sebagai hubungan super dan sub-ordinasi dalam konteks spasial. (Asshiddiqie,Jimly, dan Safa‟at, M. Ali, Theory. 2006:110). Hierarki yang dari karya sastra ini menggambarkan ketidak adilan dalam prilaku dan hak istimewah yang tidak sepatutnya didapatkan didalam penjara, dimana pernjara sejatinya adalah tempat dimana seseorang terpenjara dan terbatas akibat konsekuensi yang diterimanya. Hal tersebut tercermin pada cerpen Lelucon Para Koruptor ikarya iAgus iNoor dan lagu “Andai Aku Jadi Gayus Tambunan” karya Bona Paputungan sebagai berikut:

A.     Hirearki yang terjadi dalam Cerpen Lelucon Para Koruptor karya Agus Noor

 

            “Pengacara yang menangani kasusnya itu hanya mengatakan kalau ia tak usah terlalu khawatir selama menjalani 8 tahun masa tahanannya karena segala sesuatunya sudah ada yang atur dan urus. “Percayalah, penjara bukanlah tempat yang menyeramkan bagi koruptor,” katanya setengah tertawa.” (Lelucon Para Koruptor 2017:1).

            “Tapi pengacara berpenampilan perlente itu, yang sudah menangani puluhan kasus korupsi, menenteramkannya, “Anggap saja kau hanya pindah tempat tidur. Kau tetap bisa menjalankan bisnismu dan menikmati hal-hal yang kau sukai seperti biasanya.” (Lelucon Para Koruptor 2017:1).

 

            Pada kutipan di atas menujukan bahwa koruptor memiliki hak istimewah di dalam penjara sebab hirearki dan materi yang memungkinkan koruptor tidak menemui banyak kesulitan saat di dalam penjara. Digambarkan bahwa koruptor dapat menjalankan bisnis dan menikmati hal-hal yang ia sukai seperti di luar penjara.

 

B.         Hirearki yang terjadi dalam Lirik Lagu Andai Aku Jadi Gayus Tambunan karya Bona Paputungan

 

“Sebelas Maret

Diriku masuk penjara

Awalku menjalani

Proses masa tahanan

Hidup di penjara

Sangat berat kurasakan

Badanku kurus”

Karena beban pikiran

(Andai Aku Jadi Gayus Tambunan. 2011).

 

            Pada kutipan di atas menujukan bahwa orang yang tidak memiliki hak istimewah serta hirearki yang tinggi akan sangat berat menjalani masa tahananya.

           Paradoks menjadi suatu gaya bahasa yang menarik karena mengajak pembaca untuk berpikir lebih luas dan kritis terhadap ungkapan yang disampaikan. Paradoks menampilkan kondisi yang bertentangan tetapi biasanya mengandung kebenaran (Yusuf, 1995). Para ahli sastra setuju bahwa definisi paradoks sebagai sebuah media untuk menyampaikan pernyataan retorik yang menyiratkan pertentangan tetapi sesungguhnya berisi kebenaran (Morner & Rausch, 1991).

           Paradoks bisa menarik perhatian pembaca karena mereka harus menelaah proposisi bertentangan yang eksplisit atau implisit.  Paradoks dapat merangkum imajininasi, realitas dan polemik (Jensen, 2011). Sehingga, jika dirangkum secara keseluruhan, paradoks mempunyai ciri khas yang unik karena berbeda dari majas lainnya dalam hal penyajian pertentangan yang bisa memberi efek kejut karena proposisi dan makna di balik pertentangan yang dideskripsikan (Perrine, 1974). Beberapa hal di dalam karya sastra ini menggambarkan situasi paradoks jika dibandingkan dengan realita. Hal tersebut dapat dirasakan pada cerpen Lelucon Para Koruptor ikarya iAgus iNoor dan lagu “Andai Aku Jadi Gayus Tambunan” karya Bona Paputungan sebagai berikut:

A.       Paradoks yang terjadi dalam Cerpen Lelucon Para Koruptor karya Agus

 

           “Bahkan, ia masih bisa berkomunikasi dengan mereka, dan istrinya bisa sewaktu-waktu menemuinya bila memang ia membutuhkan untuk “menyelesaikan hasratnya”. Bila merasa bosan dan pengin sedikit refreshing berjalan-jalan di luar, semua “prosedur formal akan dibereskan dengan biaya secukupnya”. Bila kangen makanan kesukaan, tinggal telepon dan akan segera ada yang mengantarnya.” (Lelucon Para Koruptor 2017:1).

 

           Pada kutipan di atas menujukan bahwa pandangan soal kehidupan di penjara yang kelabu, penuh kekurangan dan aturan/batasan namun paradoks bagi seorang koruptor yang diperlakukan bak tuan di dalam penjara. Tentu saja situasi ini jika dibandingkan dengan realita tetntu tidak semestinya terjadi dan tidak sepatutnya didapatkan didalam penjara, dimana pernjara sejatinya adalah tempat dimana seseorang terpenjara dan terbatas akibat konsekuensi yang diterimanya.

 

B.       Paradoks yang terjadi dalam Lirik Lagu Andai Aku Jadi Gayus Tambunan karya Bona Paputungan adalah sebagai berikut:

 

“Andai ku Gayus Tambunan

Yang bisa pergi ke Bali

Semua keinginannya

Pasti bisa terpenuhi

Lucunya di negeri ini

Hukuman bisa dibeli

Kita orang yang lemah

Pasrah akan keadaan”

(Andai Aku Jadi Gayus Tambunan. 2011).

 

           Pada kutipan di atas menujukan bahwa seorang yang tidak memiliki hak istimewah iri dengan paradoks yang terjadi di dalam penjara dimana koruptor dapat keluar masuk penjara dengan membeli hukuman.

SIMPULAN

            Lewat karya sastra dalam bentuk cerpen kita diajak berfikir bahwa banyak kemungkinan-kemungkinan yang terjadi apabila seseorang yang memiliki hak istimewah di tempatkan di tempat terburuk sekalipun. Selalu ada celah untuk mengelabuhi sistem apabila moral sudah tidak dikandung badan. Dari lirik lagu ini pula kita diajak perfikir kritis dan buka suara atas kejadian-kejadian yang ganjil.

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. (2002). Pengantar Apresiasi Karya Sastra.

Bandung: Sinar Baru Algensindo

Anton M. Moeliono.2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Jakarta : Depdikbud.

Akhmad Mulyana. 2006. Sosiologi Komunikasi.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar UMB.

Barker, Chris, 2004. Cultural Studies.Teori & Praktik, Penerjemah: Nurhadi.

Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Korrie Layun Rampan. (1995). Dasar-Dasar Penulisan Cerita

Pendek. Flores. Nusa Indah.

LIliweri, Alo. 2005.  Prasangka&Konflik Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultural.

Yogyakarta: PT LKiS.

Yusuf, Suhendra. 1995. Leksikon Sastra.

Bandung: CV Mandar Maju

Komentar